BAZNAS BERBAGI

Maulid Nabi di BAZNAS Sumenep: Meneladani Cinta Rasul dan Menguatkan Jiwa Berbagi

02/09/2026 | BAZNAS DIGITAL SUMENEP

SUMENEP, 28 Agustus 2026 — Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Sumenep, Jumat (28/8/2026), tidak sekadar menjadi momentum mengenang kelahiran Rasulullah. Di aula BAZNAS Sumenep, peringatan tersebut menjadi ruang untuk kembali memahami makna cinta kepada Nabi, menghidupkan tradisi shalawat, sekaligus meneguhkan kepedulian kepada kaum dhuafa.

Kegiatan yang berlangsung dalam suasana sederhana dan khidmat itu diikuti seluruh pimpinan dan staf BAZNAS Kabupaten Sumenep. Sebanyak 20 dhuafa juga hadir sebagai bagian penting dari rangkaian peringatan Maulid Nabi.

Bagi BAZNAS, kehadiran para dhuafa bukan sekadar pelengkap acara. Mereka menjadi bagian dari pesan utama Maulid Nabi: bahwa kecintaan kepada Rasulullah harus diwujudkan dalam kepedulian sosial dan keberpihakan kepada mereka yang membutuhkan.

Rangkaian kegiatan diawali dengan pembukaan oleh Mahmudi. Acara kemudian dilanjutkan dengan pembacaan Yasin yang dipimpin Zainol Huda. Suasana semakin khidmat ketika jamaah bersama-sama mengikuti rangkaian pembacaan shalawat dan kegiatan keagamaan.

Puncak kegiatan diisi dengan tausiah oleh K. Dr. (Cand.) Shulhan, S.Pd.I., M.Pd. Dalam tausiah tersebut, Shulhan mengajak seluruh peserta tidak berhenti pada kegiatan seremonial Maulid, tetapi menjadikan peringatan kelahiran Nabi sebagai momentum untuk mengoreksi cara manusia memaknai cinta, doa, kepedulian, dan kehidupan sosial.

Cinta kepada Nabi Tidak Bersyarat

Hal pertama yang ditekankan Shulhan adalah pentingnya mencintai Nabi Muhammad SAW dengan cinta yang tulus dan tidak bersyarat.

Menurut dia, umat Islam seharusnya mencintai Nabi bukan semata-mata karena Nabi mencintai umatnya. Justru, Nabi Muhammad menunjukkan cinta kepada umat manusia tanpa syarat dan tanpa menunggu balasan.

“Cintailah Nabi bukan karena Nabi mencintai kita, tetapi tirulah cara Nabi mencintai kita tanpa syarat dan tanpa timbal balik,” pesan Shulhan dalam tausiahnya.

Ia kemudian membedakan antara mahabbah dan mawaddah. Cinta yang menuntut balasan berada dalam relasi mawaddah, seperti hubungan suami dan istri. Sementara mahabbah yang diarahkan kepada Rasulullah harus ditempatkan sebagai cinta yang tulus, yang tidak menggantungkan dirinya pada keuntungan atau balasan.

Pesan tersebut menjadi penting dalam konteks kehidupan sosial. Sebab, cinta yang selalu menunggu balasan berpotensi berubah menjadi transaksi. Sementara cinta yang tulus melahirkan kepedulian bahkan ketika tidak ada keuntungan yang diperoleh.

Dalam konteks lembaga filantropi seperti BAZNAS, nilai tersebut menemukan relevansinya. Memberikan bantuan kepada dhuafa bukan hanya persoalan menyalurkan dana, tetapi juga membangun kepedulian yang berangkat dari ketulusan.

Shalawat adalah Doa, Bukan Sekadar Bacaan

Pesan kedua berkaitan dengan tradisi pembacaan shalawat. Shulhan mengingatkan bahwa pembacaan shalawat, baik melalui Diba’ maupun Simtut Durar, tidak seharusnya dipahami hanya sebagai rangkaian bacaan yang dibaca secara berulang.

Di dalamnya terdapat doa.

Karena itu, ia mengajak peserta untuk menghayati setiap bacaan yang dilantunkan. Bagi mereka yang memahami maknanya, shalawat hendaknya dibaca dengan penghayatan dan kekhusyukan. Adapun bagi yang belum memahami seluruh maknanya, mereka tetap dapat mengikuti dengan sikap khusyuk dan mengaminkan doa-doa yang terkandung di dalamnya.

“Kalau memahami maknanya, resapi dan khusyuklah. Kalau tidak paham, aminkan, karena itu doa,” ujar Shulhan.

Pesan tersebut sekaligus mengajak jamaah agar tidak terjebak pada bentuk lahiriah sebuah ritual. Shalawat bukan sekadar suara yang memenuhi ruangan, melainkan sarana untuk menghadirkan kembali kecintaan kepada Rasulullah dan nilai-nilai yang beliau ajarkan.

Dengan demikian, Maulid Nabi tidak berhenti pada kegiatan membaca sejarah kelahiran Rasulullah, tetapi berlanjut pada upaya menghadirkan akhlak dan kepedulian sosial Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari.

Rasulullah Membawa Kabar Baik dan Peringatan

Pesan ketiga yang disampaikan Shulhan berkaitan dengan misi kerasulan Nabi Muhammad SAW sebagai pembawa rahmat.

Menurut Shulhan, Nabi diutus sebagai rahmat bagi kehidupan manusia. Rahmat tersebut antara lain tercermin dalam dua fungsi utama, yakni basyir dan nadzir.

Sebagai basyir, Nabi merupakan pembawa kabar baik. Sementara sebagai nadzir, Nabi hadir memberikan peringatan kepada manusia agar tidak terjebak dalam perilaku yang merusak dirinya maupun orang lain.

Dalam menjelaskan fungsi basyir, Shulhan mengaitkannya dengan keteladanan Nabi dalam kehidupan sosial. Rasulullah tidak mengambil jarak dari kelompok lemah. Bahkan, Nabi pernah menahan lapar dan merasakan kehidupan bersama orang-orang yang mengalami keterbatasan.

Menurut Shulhan, sikap tersebut menunjukkan bahwa Rasulullah memiliki karakter prososial. Nabi tidak hanya berbicara tentang kepedulian, tetapi juga hadir dan merasakan kehidupan masyarakat yang berada dalam kondisi sulit.

Keteladanan tersebut menjadi sangat relevan bagi lembaga pengelola zakat, infak, dan sedekah. Sebab, inti dari filantropi adalah keberpihakan kepada kemaslahatan dan kepedulian terhadap mereka yang membutuhkan.

Namun, fungsi Nabi sebagai nadzir juga harus menjadi bahan refleksi.

Peringatan Nabi bukan hanya ditujukan kepada orang yang tidak memiliki harta, tetapi juga kepada mereka yang memiliki kekayaan. Manusia diperingatkan agar tidak menjadi pribadi yang serakah dan selalu merasa kurang, meskipun secara materi telah memiliki banyak hal.

Shulhan mengajak jamaah untuk membangun apa yang ia sebut sebagai “jiwa kaya”.

Jiwa kaya, menurut dia, bukan berarti memiliki harta sebanyak-banyaknya. Jiwa kaya adalah kondisi ketika seseorang merasa tidak membutuhkan siapa pun secara berlebihan, kecuali Allah SWT. Dari jiwa semacam itu lahir mental memberi, bukan mental selalu merasa kurang.

“Jangan sampai seseorang bergelimang harta, tetapi mentalnya selalu merasa kurang,” pesan Shulhan.

Dalam perspektif tersebut, kekayaan tidak semestinya berhenti pada kepemilikan pribadi. Harta justru menemukan maknanya ketika dapat memberikan manfaat bagi orang lain.

Karena itu, Shulhan menekankan bahwa seseorang bahkan diperbolehkan memiliki keinginan untuk menambah harta apabila orientasinya adalah memperbesar kemampuan untuk bersedekah dan membantu sesama.

Pesan tersebut menjadi refleksi penting bagi para pengelola zakat. Semakin besar kemampuan seseorang, semestinya semakin besar pula kapasitasnya untuk memberi.

Maulid Berujung pada Kepedulian

Setelah tausiah, kegiatan dilanjutkan dengan penyerahan santunan kepada 20 dhuafa. Santunan diserahkan oleh Ketua BAZNAS Kabupaten Sumenep Ahmad Rahman bersama Wakil Ketua IV Moh. Tayyib.

Penyerahan santunan tersebut menjadi titik penting dari seluruh rangkaian kegiatan. Pesan tentang cinta kepada Nabi, shalawat sebagai doa, serta keteladanan Rasulullah sebagai basyir dan nadzir akhirnya diterjemahkan dalam tindakan nyata.

Maulid tidak hanya dirayakan dengan kata-kata, tetapi juga dengan kepedulian.

Kehadiran 20 dhuafa dalam kegiatan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa tradisi keagamaan dapat berjalan beriringan dengan praktik filantropi. Nilai spiritual tidak berhenti pada hubungan vertikal manusia dengan Allah, tetapi diterjemahkan menjadi kepedulian horizontal kepada sesama.

Bagi BAZNAS Sumenep, semangat tersebut sejalan dengan tugas lembaga dalam mengelola zakat dan menyalurkannya kepada masyarakat yang berhak menerima.

Dalam konteks itu, Maulid Nabi menjadi lebih dari sekadar peringatan tahunan. Ia menjadi momentum untuk mengingat kembali bahwa keberagamaan harus melahirkan kepekaan sosial.

Cinta kepada Nabi harus melahirkan cinta kepada sesama. Shalawat harus menghadirkan doa sekaligus refleksi. Sedangkan kekayaan harus mendorong seseorang untuk berbagi, bukan semakin tenggelam dalam perasaan tidak pernah cukup.

Rangkaian acara kemudian ditutup dengan doa yang dipimpin Mahmudi.

Dari aula BAZNAS Sumenep, peringatan Maulid Nabi tahun ini meninggalkan satu pesan sederhana tetapi mendalam: meneladani Rasulullah bukan hanya dengan menyebut namanya, tetapi dengan menghadirkan cinta, kepedulian, dan keberanian untuk berbagi dalam kehidupan nyata.

KABUPATEN SUMENEP

Copyright © 2026 BAZNAS

Kebijakan Privasi   |   Syarat & Ketentuan   |   FAQ  |   2.2.12